Tampilkan postingan dengan label Burung Punah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Punah. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Oktober 2012
Kuau Bergaris Ganda ( Argusianus bipunctatus )
Selasa, 04 September 2012
Archaeopteryx
Archaeopteryx ( dari Bahasa Yunani Kuno ἀρχαῖος archaiosyang berarti ‘kuno’ dan πτέρυξpteryx yang bearti ‘bulu unggas’ atau ‘sayap’; dibaca “ar-kee-OP-ter-iks” [ɑː(ɹ)kiˈɒptəɹɪks] ) adalah jenis burung paling awal dan primitif yang diketahui.
Minggu, 02 September 2012
Andalgalronis

Meski tidak bisa terbang seperti anggota keluarga burung yang lain, gambaran tentang Andalgalornis dari keluarga besar Phorusrhacids itu tetap menyeramkan. Bukan hanya karena kepalanya yang sebesar kepala kuda dan paruhnya yang besar dan tajam, tetapi juga karena pukulan kepala dan paruhnya mematikan. Paruhnya yang mirip paruh burung elang ini setajam kapak .
Burung-burung, bagian dari keluarga Phorusrhacidae / Phorusrhacids, diperkirakan telah meninggal di sekitar tahun 2.5million lalu.

Penelitian ini didanai oleh US National Science Foundation, Research Australia Council, Australia dan Pasifik Science Foundation dan Dana Nasional untuk Penelitian Ilmiah dan Teknologi Argentina.
Top Predator : Andalgarlornis yang mampu berjalan pada kecepatan hingga 30 m/jam dan bisa membelah tengkorak binatang yang lebih kecil dengan paruh mereka .
Nenek moyang burung-burung raksasa seperti Andalgalornis mulai menguasai Amerika Selatan kira-kira 60 juta tahun yang lalu dan berevolusi menjadi paling tidak 18 jenis. Pada era yang sama hidup juga binatang-binatang buas berukuran sama. Kalangan paleontologi menduga burung menjadi berukuran raksasa dengan kepala dan paruh besar serta tajam kemungkinan untuk mengisi ketidakmampuan mereka terbang.
Semua jenis burung raksasa tiba-tiba menghilang dan punah sekitar 2-3 juta tahun yang lalu, bertepatan ketika Amerika Selatan dan Amerika Utara bertubrukan. Karena telah punah, perilaku burung-burung pemangsa seperti Andalgalornis masih tetap misteri.
Rentan Patah
Hasil analisis tim Witmer, seperti diberitakan Associated Press (AP), menunjukkan paruh Andalgalornis ada kelemahannya. Paruhnya yang cekung ternyata mudah patah jika Andalgalornis mengguncang-guncangkan mangsanya menyamping. Oleh karena itu, Andalgalornis kerap menyerang mangsanya dari arah depan.
”Mereka harus berhati-hati karena mangsanya pasti memberontak. Jika tidak kuat mengendalikan mangsa, paruhnya bisa patah,” kata pemimpin tim penelitian Witmer dan Degrange. Andalgalornis termasuk salah satu dari sekian banyak burung raksasa ganas yang pernah hidup di Amerika Selatan.
Selain itu ada satu jenis burung serupa bernama Titanis yang pernah hidup di Amerika Utara, tetapi entah mengapa tiba-tiba menghilang. ”Amerika Selatan dulu tempat yang sangat aneh dan berbeda dari sekarang. Pada era dinosaurus kawasan itu masih kepulauan. Sudah terjadi banyak peristiwa evolusi,” kata Witmer.
Sistem perlindungan diri dengan paruh yang besar dan tajam dalam keluarga Phorusrhacids dinilai efektif selama puluhan juta tahun karena burung-burung raksasa hidup di zaman yang keras. Meski dinosaurus telah punah, kata Witner, perilaku burung-burung pemangsa raksasa ini seperti dinosaurus. ”Dibandingkan dengan binatang-binatang yang hidup pada era dinosaurus, ukuran burung raksasa masih lebih kecil. Tetapi perilakunya seperti Tyrannosaurus rex,” ujarnya.
Gaya serangan
Meski tidak bisa terbang seperti anggota keluarga burung yang lain, gambaran tentang Andalgalornis dari keluarga besar Phorusrhacids itu tetap menyeramkan. Bukan hanya karena kepalanya yang sebesar kepala kuda dan paruhnya yang besar dan tajam, tetapi juga karena pukulan kepala dan paruhnya mematikan. Paruhnya yang mirip paruh burung elang ini setajam kapak.
Hasil studi terbaru yang dilaporkan jurnal PLoS One dan diberitakan situs National Geographic News, Kamis (19/8), menunjukkan, Andalgalornis memiliki gaya dan taktik bertarung persis Muhammad Ali. Saat berhadapan dengan mangsanya, burung ini agresif menyerang dengan pukulan-pukulan tajam dan mematikan.
”Burung ini menjaga jarak dan terus bergerak maju mundur di sekitar mangsanya sambil melancarkan pukulan-pukulan seperti petinju. Kalau bisa, mangsanya ditelan bulat-bulat. Jika tidak bisa, mangsanya dilumat perlahan-lahan dengan otot lehernya yang kuat,” kata Lawrence Witmer, ahli paleontologi dari Ohio University College of Osteopathic Medicine yang memimpin penelitian ini.
Frederico J. Degrange, dari Museo de La Plata di Argentina, mengatakan bahwa sementara gigitannya tidak akan sekuat yang dari mamalia berukuran sama, itu akan memberikan kompensasi dengan menggunakan paruhnya yang seperti kapak.
Rabu, 18 Juli 2012
O‘ahu ‘Ō‘ō ( Moho apicalis )
O‘ahu ‘Ō‘ō ( Moho apicalis ) adalah anggota burung penghisap madu Hawaii yang telah punah yang masuk kedalam genus ‘Ō‘ō (Moho). O‘ahu ‘Ō‘ō jantan mencapai panjang 30.5 sentimeter. Panjang sayap O‘ahu ‘Ō‘ō 10.5 sampai 11.4 sentimeter. O‘ahu ‘Ō‘ō wanita lebih kecil. Habitat O‘ahu ‘Ō‘ō terletak di hutan pegunungan di O‘ahu. Ketika John Gould pertama kali mendeskripsikan O‘ahu ‘Ō‘ō tahun 1860, burung ini sudah punah selama 23 tahun

Read More
Bukti terakhir adalah koleksi tiga burung oleh penyelidik alam Ferdinand Deppe tahun 1837. Ia menemukan spesimen tersebut di bukit di belakang kota Honolulu. Setelah survey yang dipimpin oleh Robert C. L. Perkins gagal antara tahun 1880 dan 1890, burung ini dideskripsikan hampir punah. Kini terdapat tujuh spesimen di Berlin, London, New York dan Cambridge (Massachusetts). Akibat kepunahannya adalah karena datangnya nyamuk, penghancuran habitat oleh ternak dan kambing, diserang tikus dan perburuan.
Senin, 16 Juli 2012
ʻŌʻō Hawaiʻi ( Moho nobilis )
Minggu, 15 Juli 2012
‘Ō‘ō Kaua‘i ( Moho braccatus )
‘Ō‘ō Kaua‘i ( Moho braccatus ), juga diketahui dengan nama ‘O‘o‘a‘a, adalah burung penghisap madu Hawaii yang sudah punah dan endemik di pulau Kauai. Burung ini berada di hutan subtropis di pulau Kauai sampai awal abad ke-20, populasinya mulai berkurang. Suara burung ini terakhir kali terdengar pada tahun1987 dan dinyatakan punah. Akibat dari kepunahan burung ini adalah akibat dari datangnya tikus hitam, babi dan nyamuk yang membawa penyakit terhadap burung. Burung ini juga punah sebagai akibat dari dirusaknya habitat burung ini.
Burung ini merupakan salah satu jenis burung pemakan madu berukuran kecil dari Hawaii, tetapi bukan spesies terkecil, dan memiliki panjang 20 cm. Burung ini berwarna hitam atau coklat sangat gelap yang mengkilau dengan kaki kecil berwarna kuning. Seperti pemakan madu lainnya, burung ini memiliki paruh yang tajam untuk memakan nektar. Sumber nektar kesukaan burung ini adalah spesies Lobelia dan pohon 'ohiʻa lehua. Burung ini juga makan invertebrata kecil dan buah. Burung ini adalah pembuat sarang berupa lubang di lembah berhutan tebal di pulau Kauai. Banyak binatang yang berhubungan dengan burung ini juga punah, seperti ‘Ō‘ō Hawai‘i, ‘Ō‘ō Moloka‘i, dan ‘Ō‘ō O‘ahu. Sedikit informasi yang diketahui tentang burung ini.
Sabtu, 14 Juli 2012
‘Ō‘ō Bishop ( Moho bishopi )
Ō‘ō Moloka‘i, kadang-kadang disebut ‘Ō‘ō Bishop ( Moho bishopi ) adalah burung penghisap madu yang sudah punah. Lionel Walter Rothschild menamainya dengan nama Charles Reed Bishop, pendiri Museum Bishop.
‘Ō‘ō Moloka‘i ditemukan pada tahun 1892 oleh Henry C. Palmer, kolektor burung untuk Lord Rothschild. Panjangnya sekitar 29 cm. Ekornya mencapai panjang 10 cm. Bulu burung ini berwarna hitam mengkilap dengan sayap kuning. Lagu mereka adalah dua kata sederhana, took-took, yang dapat terdengar sejauh 1 mil.
Burung ini endemik pada hutan di Molokai, dan gunung Olokai. Tulang fosil ditemukan di Maui, di gunung Olinda dengan ketinggian 4.500 diatas permukaan laut . Sedikit yang diketahui tentang ekologi burung ini. Burung ini makan dari nektar bunga famili Campanulaceae .
Alasan punahnya burung ini adalah karena hancurnya habitatnya, perburuan melalui mamalia yang diperkenalkan, perburuan karena bulu kuningnya untuk membuat topi, dan juga penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Burung ini terakhir kali terlihat tahun 1904 oleh George Campbell Munro. Pada tahun 1915, Munro mencoba untuk mengverifikasi laporan penglihatan burung ini, tetapi ia tidak pernah melihat burung ini lagi. Pada tahun 1981, beberapa orang menyatakan menemukan burung ini di Maui, tetapi hal ini tidak pernah dikonfirmasi.
Read More
‘Ō‘ō Moloka‘i ditemukan pada tahun 1892 oleh Henry C. Palmer, kolektor burung untuk Lord Rothschild. Panjangnya sekitar 29 cm. Ekornya mencapai panjang 10 cm. Bulu burung ini berwarna hitam mengkilap dengan sayap kuning. Lagu mereka adalah dua kata sederhana, took-took, yang dapat terdengar sejauh 1 mil.
Alasan punahnya burung ini adalah karena hancurnya habitatnya, perburuan melalui mamalia yang diperkenalkan, perburuan karena bulu kuningnya untuk membuat topi, dan juga penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Burung ini terakhir kali terlihat tahun 1904 oleh George Campbell Munro. Pada tahun 1915, Munro mencoba untuk mengverifikasi laporan penglihatan burung ini, tetapi ia tidak pernah melihat burung ini lagi. Pada tahun 1981, beberapa orang menyatakan menemukan burung ini di Maui, tetapi hal ini tidak pernah dikonfirmasi.
Jumat, 13 Juli 2012
Argentavis Argentina

Kurang lebih pada enam juta tahun silam, seekor burung raksasa dengan bentuk yang mengejutkan terbang di atas sebuah padang rumput yang tak bertepi dalam sekilas pandang di wilayah Argentina. Bentuknya menyerupai pesawat mini model masa kini, dengan bobot lebih dari 60 kg. Namun burung raksasa Argentavis Argentina yang sudah punah ini tidak memiliki otot yang cukup kuat untuk mendorong sepasang sayapnya agar bisa terbang di angkasa. Karena itu bagaimana sebenarnya burung ini mampu terbang di angkasa luas, dahulu hal ini merupakan misteri yang sulit dipecahkan.
Kasus ini telah membuat bingung ahli paleontologi selama beberapa dasarwarsa. Namun dalam laporan investigasi yang dipublikasikan beberapa waktu lalu peneliti asal AS menemukan bahwa, pada dasarnya burung raksasa prasejarah ini adalah seekor ahli peluncur dan hewan tersebut tahu bagaimana menggunakan arus udara panas untuk terbang. Dalam sebuah forum komunikasi akademi ilmu pengetahuan AS, profesor geologi dari museum Institut Sains dan Teknologi Texas, Chartez mengatakan, "begitu naik ke angkasa, maka terbang pun tidak lagi menjadi soal bagi burung raksasa Argentina ini."
Chartez memimpin sebuah tim ahli, dengan prinsip teori dinamika udara (aerodinamika) meneliti prinsip terbang burung prasejarah ini, sekaligus menganalisa parameter terbang burung raksasa Argentina ini dengan simulasi terbang. Hasil penelitian mereka menunjukkan, bahwa seperti kebanyakan burung darat berpostur besar lainnya. Di mana meski tidak kuat untuk terbang karena postur mereka yang terlalu besar, namun burung raksasa ini malah dapat meluncur dengan mudahnya, dengan kecepatan terbang saat kondisi memungkinkan mencapai 100 km lebih.
Seperti misalnya gypsfulvus (sejenis elang bangkai), burung raksasa Argentina memerlukan arus udara panas
yang naik dari pegunungan andes saat terbang, uap yang naik di padang rumput. Dan seperti burung berpostur besar lainnya, burung raksasa Argentina terbang berputar menggunakan arus udara panas, dalam jarak penerbangan dari sarang sampai menangkap mangsa, burung raksasa ini terbang dan terbang lagi dengan menggunakan uap panas.
Chartez mengatakan: "masalah terbesar yang dihadapi oleh burung raksasa Argentina ini saat terbang adalah bagaimana caranya meninggalkan permukaan, sebab saat berdiri di permukaan tanah, sang burung raksasa sama sekali tidak dapat terbang. Sehingga dengan demikian, burung raksasa ini mungkin terbang dengan menggunakan sayap peluncur seperti pilot."
Sumber http://bacaanmu.blogspot.com/2011/03/burung-pra-sejarah-terbesar-sedunia.html#ixzz20ZFZbxQC
Senin, 25 Juni 2012
Pinguin Waitaha ( Megadyptes waitaha )
Pinguin Waitaha ( Megadyptes waitaha ) ialah spesies pinguin di Selandia Baru yang telah punah yang ditemukan pada bulan November 2008.Spesies baru ditemukan oleh ilmuwan dari Universitas Otago dan Universitas Adelaide yang membandingkan tulang kaki sediaan pinguin berusia 500 tahun, 100 tahun, dan sekarang. Awalnya mereka percaya bahwa semuanya masuk spesies pinguin bermata kuning (Megadyptes antipodes) yang sudah terancam sejak permukiman manusia.
Namun, tulang yang berusia 500 tahun menghasilkan DNA yang berbeda dan "kurang lebih 10% lebih kecil daripada pinguin mata kuning. Kedua spesies itu berhubungan erat". "Penemuan kami menunjukkan bahwa pinguin mata kuning di Selandia Baru daratan bukanlah sisa populasi yang dahulu melimpah dan sekarang merosot, namun berasal dari sub-Antarktika yang relatif terkini dan menggantikan pinguin Waitaha yang sekarang lenyap," kata anggota tim Dr. Jeremy Austin, wakil direktur Australasian Centre for Ancient DNA.Karena suku Māori setempat tidak punya catatan atas spesies berbeda ini, diperkirakan hewan ini telah punah antara tahun 1300-1500, segera setelah permukiman bangsa Polinesia di Selandia Baru. Laporan itu diterbitkan di jurnal ilmiah Proceedings of the Royal Society B
Rabu, 30 Mei 2012
Cica Matahari ( Crocias albonotatus )
Cica Matahari (Crocias albonotatus) adalah spesies burung dalam famili Timaliidae.Spesies ini endemik terhadap Indonesia.Burung ini kini terancam karena kehilangan habitat.
Sabtu, 03 Maret 2012
The Stephens Island Wren ( Xenicus (Traversia) lyalli )
The Stephens Island Wren (Xenicus (Traversia) lyalli) adalah satu, malam terbang, passerine serangga akhirnya hanya ditemukan di Pulau Stephens, meskipun luas di seluruh Selandia Baru sebelum tanah itu diselesaikan oleh Māori. The Stephens Island Wren telah lama diingat dalam mitos lokal sebagai spesies yang hanya diketahui sepenuhnya dihilangkan dengan kehidupan yang tunggal, kucing penjaga mercusuar itu.
Namun, keyakinan ini keliru, saat kucing itu tidak membunuh satu burung terakhir terlihat, spesimen lagi diperoleh di tahun-tahun berikutnya, ketika pulau ini juga menjadi tuan rumah banyak kucing liar. Nama ilmiah memperingati penjaga mercusuar asisten, David Lyall, yang pertama kali membawa burung menjadi perhatian ilmu pengetahuan. Awalnya, burung itu digambarkan sebagai genus yang berbeda, Traversia, untuk menghormati naturalis dan barang antik dealer Henry H. Travers banyak spesimen yang diperoleh dari Lyall, tapi sekarang dianggap sebagai bagian dari Xenicus Wrens, Wrens tidak sama sekali, tetapi keturunan passerines Selandia Baru yang menyerupai primitif, lebih dikenal sebagai acanthisittidae.
Ini adalah paling terkenal yang sangat sedikit (lima atau lebih) terbang passerines dikenal ilmu pengetahuan (Millener, 1989), semua pulau dan sekarang punah. Keluarga lainnya Xenicus dan Bunting Long-berkaki dari Tenerife, semua yang ditemukan baru-baru ini dan menjadi punah di zaman prasejarah. Selain itu, Bush Wren (acanthisittid lain baru-baru ini punah) dan Kepulauan Chatham Fernbird (suatu "Old World warbler") sebagian besar terbang.
Kepunahan burung ini memberikan contoh bahwa penyebab kepunahan tidak hanya akibat dari kekejaman manusia, tapi juga kebodohoan. Di tahun 1894, sebuah mercu suar dibangun di pulau Stephen, pulau yang terisolasi berada di selat antara pulau Utara dan Selatan Selandia Baru. Sebelumnya, pulau ini belum pernah diinjak oleh manusia. Penunggu mercu suar itu, bernama David Lyall, mempunyai seekor kucing yang sering membunuh dan membawa burung-burung kecil ke majikannya itu. David Lyall, penghuni satu-satunya dari pulau Stephen, mengirimkan suatu eksemplar ke museum di Wellington.
Direktur museum ini sangat senang, karena burung kecil ini adalah satu-satunya contoh dari burung kecil yang bisa berkicau dan tidak dapat terbang. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pulau Stephen. Sesampainya dia disana, ternyata kucing itu telah membunuh semua burung kecil yang ada di pulau itu. Binatang ini menjadi terkenal karena kepunahannya diakibatkan oleh seekor makhluk hidup saja, yaitu kucing.
Jumat, 02 Maret 2012
Tragopan Barat Tragopan Barat Kisut ( Tragopan melanocephalus )
Tragopan Barat Tragopan Barat Kisut atau (Tragopan melanocephalus) adalah bahwa bulu burung brilian ditemukan di sepanjang Himalaya dari Hazara di Pakistan utara ke barat di Uttarakhand di India adalah berukuran sedang. Spesies ini sangat langka dan terancam di seluruh dunia.
Yang paling gelap dari semua tragopans , laki-laki dari spesies ini sebagian besar abu-abu-hitam, kaya berbintik-bintik bulat, hitam-putih berbatasan dan memiliki kerah merah menonjol, dada bagian atas dan kulit wajah . Seperti tragopans lain, laki-laki memiliki puncak pendek sumber daya bersama mahkota mereka, dua tanduk berdaging menjadi cerah tegak selama pacaran dan Bombyx bib seperti berwarna cerah tergantung dari tenggorokan. Para gipsi patch biru untuk tanda biru-ungu Center, dan pink-merah cerah di pinggir lapangan, pucat biru dengan lekukan dan diperluas dan ditampilkan selama pacaran. Betina abu-abu kecoklatan atas dan di bawah dan tidak memiliki perhiasan laki-laki warna-warni .
Tragopan Barat tinggal dalam kelompok-kelompok keluarga kecil dan tampaknya didominasi monogami . Pasangan mulai terbentuk pada awal April, ketika laki-laki mendirikan bertengger teritorial panggilan, di mana mereka sebut keras sepanjang hari , dan umumnya kawin terjadi antara bulan April dan Juni . Sebuah sarang dasar didirikan di tanah atau di pohon, biasanya dengan sarang ditinggalkan spesies lain . Serasah 2-6 telur diinkubasi secara eksklusif oleh perempuan, meskipun laki-laki akan cenderung anak ayam sekali menetas . Keluarga pihak tinggal bersama selama musim gugur dan musim dingin dan seperti tragopans lainnya, menyebar lagi di musim semi, ketika laki-laki membangun wilayah panggil sekali lagi.
Diet terutama terdiri dari daun pohon dan semak-semak, tetapi juga mencakup akar, bunga, biji-bijian, biji, buah, belatung dan serangga . Tragopans burung pemalu dan waspada, cepat bersembunyi di antara vegetasi lebat mereka tinggal jika terganggu.
The Tragopan Barat dilindungi secara hukum di India dan Pakistan dan ditemukan di beberapa kawasan lindung, termasuk tiga taman nasional dan tempat perlindungan satwa liar sepuluh . Penemuan relatif baru dari populasi besar di Palas Valley, Pakistan, menyebabkan inisiatif konservasi utama di kawasan itu, Himalaya Jungle Proyek, dengan burung dibintangi sebagai semacam mercusuar . Proyek, yang merupakan inisiatif koperasi melibatkan BirdLife International / WWF / WPA dan pemerintah Pakistan, mempromosikan partisipasi lokal dalam konservasi dengan mengembangkan pemanfaatan berkelanjutan hutan sebagai alternatif untuk menggunakan mengganggu seperti penebangan .
Pegar Ini juga merupakan subjek penyelidikan beberapa sejak awal 1980-an dan saat ini menjalani program konservasi utama di Himachal Pradesh, India reproduksi. Dewan Nasional Margasatwa Pakistan telah menyiapkan fasilitas untuk pemeliharaan anak ayam dari telur yang diambil dari alam liar untuk edisi terbaru.
Rabu, 29 Februari 2012
The Large-billed Reed-warbler ( Acrocephalus orinus )
The Large-billed Reed-warbler (Acrocephalus orinus) adalah Old World warbler dalam genusAcrocephalus. Spesies ini telah dijuluki sebagai "burung paling dikenal di dunia" [2] Hal inidiketahui dari sebuah spesimen tunggal yang dikumpulkan di India pada tahun 1867 dan.ditemukan kembali di alam liar di Thailand pada tahun 2006.
Identitas burung tertangkap diThailand didirikan oleh pencocokan urutan DNA yang diekstraksi dari bulu, burung ini dirilis.Setelah penemuan kembali dalam spesimen liar kedua ditemukan di tengah crocephalusdumetorum spesimen dalam koleksi dari Natural History Museum di Tring . Sebuah kawasanpenangkaran itu ditemukan di Afghanistan pada tahun 2009.
Identitas burung tertangkap diThailand didirikan oleh pencocokan urutan DNA yang diekstraksi dari bulu, burung ini dirilis.Setelah penemuan kembali dalam spesimen liar kedua ditemukan di tengah crocephalusdumetorum spesimen dalam koleksi dari Natural History Museum di Tring . Sebuah kawasanpenangkaran itu ditemukan di Afghanistan pada tahun 2009.
Ini pertama kali dikumpulkan oleh Allan Octavian Hume di Lembah Sutlej dekat Rampoor,Himachal radesh, India pada 13 November 1867. Spesimen ini (BMNH pendaftaran tidak1886/07/08.. 1742) pertama kali sementara digambarkan sebagai macrorhyncha Phyllopneuste(Hume, 1869 [7]) tapi namanya berubah dua tahun kemudian untuk macrorhynchusAcrocephalus (Hume, 1871).
HC Oberholser namun pada tahun 1905 menunjukkan bahwa iniadalah tidak dapat diterima karena pesimen dari Mesir dijelaskan oleh von Müller pada tahun 1853 sebagai macrorhyncha Calamoherpe ternyata crocephalus stentoreus; macrorhynchusAcrocephalus ditinggalkan demi orinus A.Identitas spesies ini yang dimaksud dan sampai tahun 2002 dianggap sebagai sinonim dari Reed warbler gemuruh (Acrocephalus stentoreus).[8]
Beberapa orang lain menganggap ini adalah Reed warbler menyimpang Blyth's. Sebuahre-check terbaru dari morfologi [9] dan mtDNA menyarankan bahwa itu adalah spesies yangberbeda [10] Sebuah sepuluh spesimen tambahan baru di koleksi. telah diidentifikasi pada tahun 2008. Ini termasuk spesimen yang dikumpulkan oleh John Biddulph dari Gilgit dan WNKoelz dari Zebak.
HC Oberholser namun pada tahun 1905 menunjukkan bahwa iniadalah tidak dapat diterima karena pesimen dari Mesir dijelaskan oleh von Müller pada tahun 1853 sebagai macrorhyncha Calamoherpe ternyata crocephalus stentoreus; macrorhynchusAcrocephalus ditinggalkan demi orinus A.Identitas spesies ini yang dimaksud dan sampai tahun 2002 dianggap sebagai sinonim dari Reed warbler gemuruh (Acrocephalus stentoreus).[8]
Beberapa orang lain menganggap ini adalah Reed warbler menyimpang Blyth's. Sebuahre-check terbaru dari morfologi [9] dan mtDNA menyarankan bahwa itu adalah spesies yangberbeda [10] Sebuah sepuluh spesimen tambahan baru di koleksi. telah diidentifikasi pada tahun 2008. Ini termasuk spesimen yang dikumpulkan oleh John Biddulph dari Gilgit dan WNKoelz dari Zebak.
Penemuan kembali
Pada tanggal 27 Maret 2006, spesimen hidup tertangkap di Laem Phak Bia Lingkungan Risetdan Pengembangan Proyek di Phetchaburi, Thailand oleh ahli burung Philip Putaran MahidolUniversity. Burung dikelilingi dan dua bulu diekstraksi; DNA dari mereka ditemukan cocok dengan DNA dari 1.867 spesimen
Berdasarkan sayap pendek dan bulat, studi sebelumnya telah menyarankan bahwa spesies inimungkin penduduk migran atau pendek-jauh. The rediscoveries dari spesimen museum keduadari lokasi yang berbeda dan spesimen liar dari Thailand menunjukkan bahwa ini mungkin tidakbegitu.
Identifikasi lapangan Beberapa dari West Bengal dan India tengah selanjutnya dilaporkan berdasarkan perilaku , tetapi ditangkap spesimen tampaknya tidak cocok dengan spesies.